Rabu, 19 Desember 2012

pengalaman

Di bulan agustus 2011 waktunya liburan semester. Lagi musim kemarau nih ceritanya.
pada waktu itu warga sekitar kampung Talekoi dan sekitarnya lagi rame-ramenya menangkap udang dengan alat khusus dianyam dari rotan yang bernama "tangguk".
Suatu sore ada seorang ibu-ibu yang pergi menangkap udang ke danau yang bernama Teluk Watu yang kondisinya lagi surut. Pada saat di tepian danau, ibu ini asyik banget menarik tangguknya di antara tumpukan daun-daun di daerah sungai yang dangkal dan tiba-tiba tangguknya menyentuh sejenis batang. Si ibu ini berniat untuk mengangkat batang tsb, ternyata cukup berat. Karena si Ibu merasa dapat cukup banyak undang yang lumayan besar-besar dan dia belum berniat untuk berpindah tempat, maka dengan segenap upaya dia mengangkat batang tersebut. Dan akhirnya terangkat jugalah batang itu, namun betapa terkejutnya sang ibu kalau ternyata batang tersebut ternyata sebuah patung manusia dengan lidah terjulur yang terbuat dari ulin dengan menenteng rupa buaya di punggungnya dan seekor monyet di atas kepalanya. Kondisi patung tersebut kotor karena diperkirakan puluhan tahun tertanam dalam lumpur di dasar danau.
Segeralah ibu ini memberitahukan warga desa Talekoi yang juga kebetulan hanya berjarak sekitar 100 meter dari tempat kejadian. Lalu segera beramai-ramailah warga desa bergotong royong untuk memboyong patung misterius tersebut dan membawanya ke rumah ketua RT setempat.
Dengan berjalannya hari, beritapun dengan cepat menyebar sehingga banyak orang dari kampung-kampung tetangga berdatangan hanya demi rasa penasarannya untuk melihat patung tersebut.
Banyak spekulasi-spekulasi perkiraan yang muncul menurut pendapat para tetua. ada yang bilang merupakan patung sandung orang meninggal dan ada pula yang bilang patung tersebut dengan gaib muncul di tempat tersebut. Namun ada juga yang bilang kalau patung tersebut merupa patung yang dicuri dari suatu tempat yang bukan berasal dari daerah setempat karena ciri-ciri patungnya bukan dari daerah tersebut dan menurutnya pencuri tersebut merasa patungnya cukup berat lalu sengaja dibuang di Teluk Watu. Tapi tidak ada anggapan yang mampu dibuktikan secara logis.
Selama seminggu keadaan Desa Talekoi masih ramai kedatangan warga, seolah-olah jadi obyek wisata baru. Karena semakin tingginya minat warga, maka kepala desa diam-diam berinisiatif membawa patung yang sebelumnya didirikan di halaman rumah ketua RT lalu dipindahkan ke balai desa. Kemudian menyebar berita kalau patung tersebut sudah dikubur di suatu tempat. Hal tersebut dilakukan untuk menantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Lalu dengan sendirinya keadaan kampung kembali normal.
 Setelah beberapa hari setelah itu, ada seorang warga yang meninggal dunia, selang beberapa hari disusul beberapa kematian warga desa lainnya.
Pada suatu malam ada seorang warga bermimpi bahwa patung tersebut meminta nyawa sebanyak 50 orang (merinding.red). Lalu segeralah dilaporkan hal tersebut dengan kepala desa setempat dan kemudian damang adat pun dipanggil guna untuk memusyawarahkan masalah tersebut.

akhirnya diputuskan bahwa diadakan slametan mapas lewu (pembersihan kampung.Red) dengan mengundang balian (paranormal hindu kaharingan.Red) perihal ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Singkatnya, sampailah acara slametan tersebut yang diadakan kurang lebih seminggu.
(karena penulis tidak datang setiap hari jadi langsung ke acara terakhirnya)
Pada malam hari pada hari terakhir, diadakan ritual untuk berkomunikasi dengan patung tersebut. diceritakan bahwa tiap unsur dari patung tersebut memiliki kekuatan gaibnya. Menurut cerita balian yang sudah dirasuki oleh kekuatan roh lain tersebut patung itu adalah patung manusia yang kelelahan membawa buaya dan monyet sempai-sampai terjulur lidahnya. menurutnya patung itu berasal dari Desa Ulu Jaman dan monyetnya adalah teman dari roh yang merasuki balian yang berasal dari Pulau Kambang.
Karena merinding (kurang lebih takut.Red) dalam hati penulis berkata "TUHAN YESUS MEMBERKATI". Namun sepertinya balian yang sedang dirasuki tersebut mampu membaca pikiran penulis, sehingga dia berkata dalam bahasa Banjar, "dari ujung langit sampai ujung langit adalah Kekuasaan kami (ga tau kami siapa), sampai TUHAN YESUS gin kawal kami. Bujuran nah, kada sagala bakaramput." Mendengar hal itu penulis jadi tersenyum.
Ngeri juga yah...
Setelah itu, balian mendatangi damang adat dan membisiki sesuatu perihal keinginan dari patung tersebut. Setelah itu, banyak orang kampung yang masih percaya dengan pengobatan kampung bergerombol untuk bakumul (mengobati penyakit.Red).
Selesai itu penulis pun pulang. Diperjalanan pulang, penulis yang membonceng ibu dengan menggunakan sepeda motor berpikir dan teringat akan sesuatu yaitu apa yang balian katakan kalau "TUHAN YESUS teman mereka (mereka yang tidak diketahui)". Penulis sadari bahwa mereka yang tidak diketahui itu aja mengakui kalau YESUS itu TUHAN dengan menyebut TUHAN YESUS jadi menurut penulis yang notabennya adalah orang Kristen, kenapa kita sebagai orang Kristen meragukan YESUS itu TUHAN kalau mereka yang tidak diketahui itu aja ngakuin kalau YESUS itu TUHAN ?
sambil memikirkan hal itu, terdengar bisikin ibu dari belakang agar menengok ke atas. Setelah penulis melihat ke atas (tepatnya ke arah atas depan) ternyata ada seperti cahaya senter yang bergerak lamban di atas pucuk pohon kemudian menghilang terhalang hutan.
hening !!
Sampai di rumah, ibu penulis baru bilang kalau itu mate alah (mata hantu).
Langsung brrrr merinding.
Tapi sebagai orang percaya, tetap menyerahkan segala sesuatunya kepada TUHAN YESUS.

Ini cerita nyata dan sebagai bahan kesaksian hidup.
tks

Tidak ada komentar:

Posting Komentar